Live Streaming

INFO HITS TERKINI

UNMEKA Bekali Mahasiswa Hadapi Era AI Melalui Seminar Agentic AI Untuk Dunia Kerja

UNMEKA Bekali Mahasiswa Hadapi Era AI Melalui Seminar Agentic AI Untuk Dunia Kerja

Yogyakarta, 3 Juli 2026 – Universitas Nusa Megarkencana kembali menunjukkan komitmennya dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi melalui seminar bertajuk “Agentic AI Untuk Dunia Kerja”. Seminar ini dilaksanakan di Auditorium Unmeka, Jumat (3/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan Riyan Aji Pangestu, S.Kom., selaku Chief Technology Officer (CTO) Neo-x, sebagai narasumber utama. Seminar dipandu oleh Dr. Sapta Aji Sri Margiutomo, S.Kom., M.M. sebagai moderator dan dibuka secara resmi oleh Dr. Misdiyono, S.E., M.M., M.I.Kom., Rektor Universitas Nusa Megarkencana.

Dalam sambutannya, Dr. Misdiyono menyampaikan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar di berbagai sektor kehidupan, termasuk dunia pendidikan dan dunia kerja. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami bukan hanya cara menggunakan AI, tetapi juga bagaimana memanfaatkannya secara strategis, kreatif, dan bertanggung jawab.

"Melalui seminar ini, kami berharap mahasiswa mampu meningkatkan kompetensi digital, memahami perkembangan Agentic AI, serta siap menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin mengandalkan teknologi kecerdasan buatan," ujar beliau.

Setelah sambutan pembuka, acara dilanjutkan dengan sesi penandatanganan dokumen, serta melakukan sesi foto bersama wakil rektor, moderator, narasumber, serta mahasiswa UNMEKA.

Pada sesi utama, Riyan Aji Pangestu, CTO Neo-x, menjelaskan bahwa perkembangan AI telah memasuki fase baru. Jika sebelumnya AI hanya dimanfaatkan sebagai alat pencari informasi atau chatbot, kini AI berkembang menjadi AI Agent, yaitu sistem yang mampu bekerja secara mandiri untuk menyelesaikan serangkaian tugas berdasarkan tujuan yang diberikan pengguna.

Riyan menjelaskan evolusi AI dimulai dari Search Engine yang hanya berfungsi mencari informasi, kemudian berkembang menjadi Chatbot yang mampu berinteraksi melalui percakapan. Tahap berikutnya adalah Copilot, yang membantu pengguna menyelesaikan pekerjaan secara interaktif, hingga akhirnya muncul AI Agent, teknologi yang mampu bekerja secara otonom dengan sedikit intervensi manusia.

Dalam pemaparannya, Riyan membandingkan chatbot konvensional dengan Agentic AI. Chatbot hanya menghasilkan satu respons berdasarkan pertanyaan pengguna dan memiliki kemampuan yang terbatas pada percakapan berbasis teks. Sebaliknya, Agentic AI mampu mengelola tugas yang terdiri dari banyak langkah, mengakses database maupun API (Application Programming Interface) eksternal, menjalankan berbagai aplikasi, hingga menghasilkan output yang lebih terstruktur dan siap digunakan.

Riyan juga menampilkan konsep Agentic Workflow, yaitu sistem kerja yang memungkinkan hasil dari satu AI menjadi masukan bagi AI lainnya sehingga membentuk alur kerja otomatis yang saling terhubung. Konsep ini memungkinkan penyelesaian pekerjaan kompleks secara lebih efisien karena setiap AI memiliki peran yang berbeda namun saling mendukung.

Selain membahas peluang, narasumber juga mengingatkan pentingnya memahami risiko penggunaan AI. Beberapa tantangan yang harus diperhatikan antara lain munculnya hallucination atau informasi yang tidak akurat, kebocoran data, bias algoritma, serangan prompt injection, serta pentingnya akuntabilitas terhadap hasil yang dihasilkan AI. Oleh karena itu, pengguna tetap harus melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diberikan AI.

Menutup sesi materi, Riyan menekankan bahwa kemampuan manusia tetap menjadi faktor utama dalam era Agentic AI. Menurutnya, keseimbangan antara kemampuan teknologi dan keterampilan manusia harus terus dijaga. AI memiliki keunggulan dalam memproses data dalam jumlah besar, bekerja secara cepat, dan menjalankan tugas berulang, sedangkan manusia tetap unggul dalam berpikir kritis, kreativitas, empati, kepemimpinan, sertapengambilan keputusan yang mempertimbangkan aspek etika.

Melalui seminar Agentic AI Untuk Dunia Kerja, Universitas Nusa Megarkencana berharap mahasiswa memperoleh wawasan baru mengenai perkembangan kecerdasan buatan dan mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara bijak, inovatif, dan bertanggung jawab dalam dunia akademik maupun profesional.