Live Streaming

INFO HITS TERKINI

Krida Beksa Wirama Warisan Sejuta Makna Dihadirkan Royal Ambarrukmo

Krida Beksa Wirama Warisan Sejuta Makna Dihadirkan Royal Ambarrukmo

Krida Beksa Wirama kembali mengalunkan irama gending Jawa dan berlenggang di lingkungan Kedaton Ambarrukmo yang merupakan petilasan dari Sultan Hamengku Buwono VII yang juga pemrakarsa awal sanggar yang genap berusia 99 tahun ini.

Hasil dari pelatihan dalam periode tiga bulan ini, serta masih disingkapi semangat kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 dan menuju satu abad KBW, Royal Ambarrukmo Yogyakarta berkolaborasi dan bersinergi untuk bergabung bersama pada malam apresiasi budaya bertajuk “Menjunjung Tradisi, ujar Khoirul Anwar selaku Marketing & Communications Manager.

Gladi Beksa di Kedaton Ambarrukmo setiap hari Selasa dilatarbelakangi oleh tautan sejarah yang kuat dan komitmen bulat dari beberapa pemangku kepentingan yang sangat peduli akan keberlangsungan nafas warisan tradisi nan elegan ini.

Setiap hari Selasa sore, mulai pukul 4 sore bertempat di situs cagar budaya abad ke-18 ini, kegiatan edukasi dan berlatih tari jawa klasik akan berlangsung, terbuka bagi tamu hotel dan publik, semua umur – baik pria dan wanita. Bersama dengan Patehan dan Jemparingan di tiap hari Jumat sore serta beberapa kegiatan berpokok pada budaya lokal serta gaya hidup moderen, Gladi Beksa bersama Krida Beksa Wirama diharapkan untuk mampu membangun kembali spirit berbudaya di abad ke-21 ini, mengulang kegiatan cita-cita luhur pendiri bangsa kita untuk memajukan Indonesia, berwawasan luhur, tangguh dan berbudi pekerti.

Agenda pemberian secara simbolis apresiasi budaya KBW kepada Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Beksa Nawung Sekar, Beksa Srimpi Rangu Rangu & Beksa Sari Tunggal menjadi tajuk utama pada acara pagelaran yang diharapkan menjadi agenda rutin bagi KBW & RAY.

Sebagai wujud komitmen nyata dari kedua belah pihak yang memberikan dedikasi karyanya kepada masyarakat luas mengenai warisan budaya dunia asli Indonesia, keberlangsungannya tidak hanya berhenti pada tujuan pagelaran, namun lebih mengedepankan edukasi dan regenerasi penari-penari berintegritas

Sultan Hamengku Buwono VII dikenal dengan pemikirannya yang visioner dan moderen pada masanya yaitu masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta.

Banyak sekolah didirikan dan beliau mengirimkan putra-putranya untuk belajar ke Belanda. Untuk memajukan dan mencerdaskan rakyatnya, salah satu yang Sultan Hamengku Buwono VII lakukan adalah membawa kesenian tari yang dulu adalah hanyak milik ‘warga dalam’ ke luar tembok Keraton Yogyakarta Hadiningrat.

Melalui pangeran GPH Tejokusomo dan BPH Suryodinigrat dengan dukungan dan restu dari Sultan Hamengku Buwono VII didirikannlah ‘Krida Beksa Wirama’ pada 17 Agustus 1918, yang merupakan organisasi tari pertama yang berada diluar tembok Keraton.

Krida Beksa Wirama terlahir bukan semata sebagai organisasi kesenian, tetapi juga organisasi pergerakan melawan penjajahan dengan memanfaatkan kekuatan seni. Melalui KBW diajarkan pula nilai-nilai luhur budaya sekaligus pendidikan politik pada rakyat.

KBW juga yang pertama yang mengajarkan teknik hitungan dalam belajar menari, karena pada dahulu kala belajar menari hanya menirukan atau mencontoh. Pada penampilan Beksan perdana ini ditarikan pula “Tari Sari Tunggal” yang diciptakan tahun 1928. Gerakan pada tari Sari Tunggal adalah gerakan dasar yang ada pada semua gerakan, soko guru pondasi bagi nomor tari klasik jawa yang pernah dikaryaciptakan.